Jumat, 29 Januari 2010

LIKUIDITAS DANLOAN TO DEPOSIT RATIO TERHADAP RETURN PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA pLIKUIDITAS DANLOAN TO DEPOSIT RATIO T

LIKUIDITAS DANLOAN TO DEPOSIT RATIO TERHADAP RETURN PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
pLIKUIDITAS DANLOAN TO DEPOSIT RATIO TERHADAP RETURN PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bursa Efek Jakarta adalah salah satu tempat perdagangan saham dari berbagai macam industri yang ada di Indonesia. Perusahaan perbankan adalah salah satu industri yang ikut berperan serta dalam pasar modal, disamping industri lainnya seperti industri manufaktur, pertanian, pertambangan, properti dan lain-lain. Perusahaan perbankan merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary), selain itu perusahaan perbankan juga sebagai lembaga yang memperlancar lalu lintas pembayaran. Pada dasarnya falsafah yang mendasari kegiatan usaha bank adalah kepercayaan dari nasabah. Sebagai lembaga kepercayaan, bank dalam operasinya lebih banyak menggunakan dana masyarakat dibandingkan dengan modal sendiri dari pemilik atau pemegang saham. Oleh karena itu pengelola bank dalam melakukan usahanya dituntut untuk dapat menjaga keseimbangan antara pemeliharaan likuiditas yang cukup dengan pencapaian rentabilitas yang wajar, serta pemenuhan modal yang memadai.
Pengelolaan likuiditas merupakan masalah yang sangat kompleks dalam kegiatan operasi bank Hal ini karena menyangkut dana pihak ke tiga (DPK) yang sebagian besar sifatnya jangka pendek. Pengelola bank harus memperhatikan seakurat mungkin kebutuhan likuiditas untuk jangka waktu tertentu. Perkiraan kebutuhan likuiditas dipengaruhi oleh perilaku penarikan nasabah, sifat dan jenis sumber dana yang dikelola bank.
Sebagai suatu perusahaan atau entitas ekonomi, bank memberi laporan keuangan untuk menunjukkan informasi dan posisi keuangan yang disajikan untuk pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi akuntansi seperti yang tercantum dalam pelaporan keuangan dapat digunakan oleh investor sekarang dan potensial dalam memprediksi penerimaan kas dari deviden dan bunga di masa yang akan datang. Deviden yang akan diterima oleh investor tergantung pada jumlah laba yang diperoleh perusahaan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, prediksi perubahan laba perusahaan dengan menggunakan informasi laporan keuangan menjadi sangat penting untuk dilaksanakan. Laba merupakan indikator penting dari laporan keuangan yang memiliki berbagai kegunaan. Laba pada umumnya dipakai sebagai suatu dasar pengambilan keputusan investasi, dan prediksi untuk meramalkan perubahan laba yang akan datang. Investor mengharapkan dana yang diinvestasikan ke dalam perusahan akan memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi sehingga laba yang diperoleh jadi tinggi pula. Laba yang diperoleh perusahaan untuk tahun yang akan datang tidak dapat dipastikan, maka perlu adanya suatu prediksi perubahan laba. Perubahan laba akan berpengaruh terhadap keputusan investasi para investor dan calon investor yang akan menanamkan modalnya ke dalam perusahaan.
Sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian perusahaan adalah laporan keuangan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian kinerja perusahaan. Analisis rasio keuangan perusahaan merupakan salah satu alat untuk memperkirakan atau mengetahui kinerja perusahaan. Apabila kinerja perusahaan publik meningkat nilai perusahaan akan semakin tinggi. Selain itu dengan analisis rasio keuangan akan dapat diketahui jika perusahaan melakukan penyimpangan-penyimpangan. Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu teknik tersebut yang populer diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan. Menurut Mulyono (1995:95), untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan dapat diketahui dengan tiga aspek yaitu aspek solvabilitas, likuiditas, dan rentabilitas. Solvabilitas merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar semua utang-utang baik utang jangka panjang atau utang jangka pendek. Berdasarkan teori struktur modal menunjukkan penggunanan hutang akan meningkatkan tambahan laba operasi perusahaan karena pengembalian dari dana ini melebihi bunga yang harus dibayar, yang berarti meningkatkan keuntungan bagi investor dan perusahaan yaitu labanya akan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Dengan demikian rasio ini mempunyai hubungan yang positif terhadap perubahan laba. Dalam dunia perbankan rasio solvabilitas sama dengan rasio permodalan, yang dapat dihitung dengan
Dalam dunia perbankan rasio likuiditas dapat diketahui dengan Loan to Deposit Ratio yang selanjutnya disingkat LDR. Rasio LDR merupakan rasio kredit yang diberikan terhadap dana pihak ketiga yang diterima oleh bank yang bersangkutan. Besarnya LDR akan berpengaruh terhadap laba melalui penciptaan kredit. LDR yang tinggi mengindikasikan adanya penanaman dana dari pihak ketiga yang besar ke dalam bentuk kredit. Kredit yang besar akan meningkatkan laba. Pertumbuhan likuiditas berlawanan arah dengan pertumbuhan laba yaitu jika pertumbuhan likuiditas menunjukkan adanya peningkatan dana yang menganggur dapat menyebabkan pertumbuhan laba satu tahun kedepan akan menurun (Zainuddin dan Hartono, 1999), jadi jika LDR naik maka pertumbuhan laba akan meningkat.
Kesehatan bank juga dipengaruhi oleh tingkat likuiditas bank. Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan. Likuiditas yang baik tidak akan membuat bank berkurang apabila deposan menagih bank sewaktu–waktu. Pada penelitian ini untuk mengukur likuiditas bank digunakan rasio keuangan Loan to Deposit Ratio (LDR). Nilai LDR mengalami fluktuasi yang tidak menentu. Sebagai contoh adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) dan PT Bank Mega Tbk

Indonesian Capital Market Directory Nilai LDR yang dimiliki BNI untuk tahun 2002 ke 2003 mengalami kenaikan sebesar 0,3413 menjadi 0,3774 demikian juga laba yang diperoleh mengalami penurunan sebesar –0.61 yaitu Rp 2.513.260 juta menjadi Rp 970.308juta. Pada Bank Mega, nilai CAR mengalami penurunan dari tahun 2002 ke 2003 yaitu sebesar 0,1277 menjadi 0,1121 tetapi laba yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 0, 96 yaitu Rp 180.302,00 juta menjadi Rp 208.064,00 juta. Nilai LDR tahun 2000 ke 2001 mengalami kenaikan sebesar 0,4887 menjadi 0,4975 tetapi perolehan laba mengalami penurunan sebesar -0,68 yaitu Rp 90.013,00 juta menjadi Rp 28.524,00 juta.. Hal ini dikarenakan perusahaan perbankan tersebut termasuk emiten yang telah terdaftar di bursa efek yang laporan keuangannya dipublikasikan secara berkala, agar masyarakat atau investor mengetahui hasil kinerja perusahaan dalam satu tahun, laba yang diperoleh, kondisi aktiva perusahaan, jumlah hutang, modal, perubahan modal dan informasi lainnya yang diperlukan untuk pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka diadakan penelitian tentang
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diatas, maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.Adakah pengaruh LDR terhadap perubahan laba satu tahun ke depan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ secara simultan?
2.Adakah pengaruh likuiditas terhadap perubahan laba satu tahun ke depan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ secara simultan?
3.Adakah pengaruh likuiditas dengan metode LDR terhadap perubahan laba satu tahun ke depan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ secara simultan?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengaruh LDR terhadap perubahan laba satu tahun kedepan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ.
2.Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas terhadap perubahan laba satu tahun kedepan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ.
3.Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas dengan LDR terhadap perubahan laba satu tahun kedepan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ.
Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dapat menambah pengetahuan baik bagi peneliti maupun lembaga pendidikan, dan untuk menambah kepustakaan yang sudah ada.
2. Dapat memberi masukan untuk para investor potensial dan calon investor dalam memprediksi perubahan laba perusahaan sebelum berinvestasi di perusahaan perbankan yang terdatar di BEJ.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi dunia perbankan dalam melakukan operasinya agar selalu menggunakan prinsip kehati-hatian sehingga kinerjanya akan dianggap sehat oleh Bank Indonesia pada khususnya dan masyarakat umum pada umumnya.








BAB II
LANDASAN TEORI
Bank
Pengertian Bank
Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Perbankan mempunyai kegiatan yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana (borrower) dan pihak yang mempunyai kelebihan dana (saver). Menurut A. Abdurrachman sebagaimana dikutip oleh Suyatno (1997:1), bahwa bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan bendabenda berharga, membiayai usaha-usaha perbankan, dan lain-lain. Sedangkan menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 1, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sedangkan perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Likuiditas
Dalam terminologi keuangan dan perbankan terdapat banyak pengertian mengenai likuiditas, beberapa diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut :
“Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kemungkinan ditariknya deposito/ simpanan oleh deposan/ penitip”. Dengan kata lain, menurut definisi ini, suatu bank dikatakan likuid apabila dapat memenuhi kewajiban penarikan uang dari pada penitip dana maupun dari para peminjam/ denitur.
“Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban hutang- hutanya, dapat membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan.”
Menurut pengertian ini bank dikatakan likuid apabila :
1.1. Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang akan digunakan untuk memenuhi likuiditasnya;
2.2. Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari yang tersebut diatas, tetapi yang bersangkutan juga memiliki asset lainnya (khususnya surat-surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya;
3.3. Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash assets baru melalui berbagai bentuk hutang.

Dalam terminologi yang hampir sama, dapat disebutkan bahwa “likuiditas adalah kemampuan bank untuk menyediakan saldo kas dan saldo harta likud yang lain untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, khususnya uintuk :
1. Menutup jumlah reserves required;
2. Membayar chek, giro berbunga, tabungan dan deposito berjangka milik nasabah yang diuangkan kembali;
3. Menyediakan dana kredit yang diminta calon debitur sehat, sebagai bukti bahwa mereka tidak menyimpang dari kegiatan utama bank yaitu pemberian kredit;
4. Menutup berbagai macam kewajiban segera lainnya;
5. Menutup kebutuhan biaya operasional perusahaan.
Latar Belakang Masalah
Bursa Efek Jakarta adalah salah satu tempat perdagangan saham dari berbagai macam industri yang ada di Indonesia. Perusahaan perbankan adalah salah satu industri yang ikut berperan serta dalam pasar modal, disamping industri lainnya seperti industri manufaktur, pertanian, pertambangan, properti dan lain-lain. Perusahaan perbankan merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary), selain itu perusahaan perbankan juga sebagai lembaga yang memperlancar lalu lintas pembayaran. Pada dasarnya falsafah yang mendasari kegiatan usaha bank adalah kepercayaan dari nasabah. Sebagai lembaga kepercayaan, bank dalam operasinya lebih banyak menggunakan dana masyarakat dibandingkan dengan modal sendiri dari pemilik atau pemegang saham. Oleh karena itu pengelola bank dalam melakukan usahanya dituntut untuk dapat menjaga keseimbangan antara pemeliharaan likuiditas yang cukup dengan pencapaian rentabilitas yang wajar, serta pemenuhan modal yang memadai.
Pengelolaan likuiditas merupakan masalah yang sangat kompleks dalam kegiatan operasi bank Hal ini karena menyangkut dana pihak ke tiga (DPK) yang sebagian besar sifatnya jangka pendek. Pengelola bank harus memperhatikan seakurat mungkin kebutuhan likuiditas untuk jangka waktu tertentu. Perkiraan kebutuhan likuiditas dipengaruhi oleh perilaku penarikan nasabah, sifat dan jenis sumber dana yang dikelola bank.
Sebagai suatu perusahaan atau entitas ekonomi, bank memberi laporan keuangan untuk menunjukkan informasi dan posisi keuangan yang disajikan untuk pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi akuntansi seperti yang tercantum dalam pelaporan keuangan dapat digunakan oleh investor sekarang dan potensial dalam memprediksi penerimaan kas dari deviden dan bunga di masa yang akan datang. Deviden yang akan diterima oleh investor tergantung pada jumlah laba yang diperoleh perusahaan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, prediksi perubahan laba perusahaan dengan menggunakan informasi laporan keuangan menjadi sangat penting untuk dilaksanakan. Laba merupakan indikator penting dari laporan keuangan yang memiliki berbagai kegunaan. Laba pada umumnya dipakai sebagai suatu dasar pengambilan keputusan investasi, dan prediksi untuk meramalkan perubahan laba yang akan datang. Investor mengharapkan dana yang diinvestasikan ke dalam perusahan akan memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi sehingga laba yang diperoleh jadi tinggi pula. Laba yang diperoleh perusahaan untuk tahun yang akan datang tidak dapat dipastikan, maka perlu adanya suatu prediksi perubahan laba. Perubahan laba akan berpengaruh terhadap keputusan investasi para investor dan calon investor yang akan menanamkan modalnya ke dalam perusahaan.
Sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian perusahaan adalah laporan keuangan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian kinerja perusahaan. Analisis rasio keuangan perusahaan merupakan salah satu alat untuk memperkirakan atau mengetahui kinerja perusahaan. Apabila kinerja perusahaan publik meningkat nilai perusahaan akan semakin tinggi. Selain itu dengan analisis rasio keuangan akan dapat diketahui jika perusahaan melakukan penyimpangan-penyimpangan. Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu teknik tersebut yang populer diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan. Menurut Mulyono (1995:95), untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan dapat diketahui dengan tiga aspek yaitu aspek solvabilitas, likuiditas, dan rentabilitas. Solvabilitas merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar semua utang-utang baik utang jangka panjang atau utang jangka pendek. Berdasarkan teori struktur modal menunjukkan penggunanan hutang akan meningkatkan tambahan laba operasi perusahaan karena pengembalian dari dana ini melebihi bunga yang harus dibayar, yang berarti meningkatkan keuntungan bagi investor dan perusahaan yaitu labanya akan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Dengan demikian rasio ini mempunyai hubungan yang positif terhadap perubahan laba. Dalam dunia perbankan rasio solvabilitas sama dengan rasio permodalan, yang dapat dihitung dengan
Dalam dunia perbankan rasio likuiditas dapat diketahui dengan Loan to Deposit Ratio yang selanjutnya disingkat LDR. Rasio LDR merupakan rasio kredit yang diberikan terhadap dana pihak ketiga yang diterima oleh bank yang bersangkutan. Besarnya LDR akan berpengaruh terhadap laba melalui penciptaan kredit. LDR yang tinggi mengindikasikan adanya penanaman dana dari pihak ketiga yang besar ke dalam bentuk kredit. Kredit yang besar akan meningkatkan laba. Pertumbuhan likuiditas berlawanan arah dengan pertumbuhan laba yaitu jika pertumbuhan likuiditas menunjukkan adanya peningkatan dana yang menganggur dapat menyebabkan pertumbuhan laba satu tahun kedepan akan menurun (Zainuddin dan Hartono, 1999), jadi jika LDR naik maka pertumbuhan laba akan meningkat.
Kesehatan bank juga dipengaruhi oleh tingkat likuiditas bank. Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan. Likuiditas yang baik tidak akan membuat bank berkurang apabila deposan menagih bank sewaktu–waktu. Pada penelitian ini untuk mengukur likuiditas bank digunakan rasio keuangan Loan to Deposit Ratio (LDR). Nilai LDR mengalami fluktuasi yang tidak menentu. Sebagai contoh adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) dan PT Bank Mega Tbk

Indonesian Capital Market Directory Nilai LDR yang dimiliki BNI untuk tahun 2002 ke 2003 mengalami kenaikan sebesar 0,3413 menjadi 0,3774 demikian juga laba yang diperoleh mengalami penurunan sebesar –0.61 yaitu Rp 2.513.260 juta menjadi Rp 970.308juta. Pada Bank Mega, nilai CAR mengalami penurunan dari tahun 2002 ke 2003 yaitu sebesar 0,1277 menjadi 0,1121 tetapi laba yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 0, 96 yaitu Rp 180.302,00 juta menjadi Rp 208.064,00 juta. Nilai LDR tahun 2000 ke 2001 mengalami kenaikan sebesar 0,4887 menjadi 0,4975 tetapi perolehan laba mengalami penurunan sebesar -0,68 yaitu Rp 90.013,00 juta menjadi Rp 28.524,00 juta.. Hal ini dikarenakan perusahaan perbankan tersebut termasuk emiten yang telah terdaftar di bursa efek yang laporan keuangannya dipublikasikan secara berkala, agar masyarakat atau investor mengetahui hasil kinerja perusahaan dalam satu tahun, laba yang diperoleh, kondisi aktiva perusahaan, jumlah hutang, modal, perubahan modal dan informasi lainnya yang diperlukan untuk pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka diadakan penelitian tentang
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diatas, maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.Adakah pengaruh LDR terhadap perubahan laba satu tahun ke depan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ secara simultan?
2.Adakah pengaruh likuiditas terhadap perubahan laba satu tahun ke depan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ secara simultan?
3.Adakah pengaruh likuiditas dengan metode LDR terhadap perubahan laba satu tahun ke depan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ secara simultan?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengaruh LDR terhadap perubahan laba satu tahun kedepan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ.
2.Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas terhadap perubahan laba satu tahun kedepan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ.
3.Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas dengan LDR terhadap perubahan laba satu tahun kedepan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ.
Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dapat menambah pengetahuan baik bagi peneliti maupun lembaga pendidikan, dan untuk menambah kepustakaan yang sudah ada.
2. Dapat memberi masukan untuk para investor potensial dan calon investor dalam memprediksi perubahan laba perusahaan sebelum berinvestasi di perusahaan perbankan yang terdatar di BEJ.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi dunia perbankan dalam melakukan operasinya agar selalu menggunakan prinsip kehati-hatian sehingga kinerjanya akan dianggap sehat oleh Bank Indonesia pada khususnya dan masyarakat umum pada umumnya.








BAB II
LANDASAN TEORI
Bank
Pengertian Bank
Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Perbankan mempunyai kegiatan yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana (borrower) dan pihak yang mempunyai kelebihan dana (saver). Menurut A. Abdurrachman sebagaimana dikutip oleh Suyatno (1997:1), bahwa bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan bendabenda berharga, membiayai usaha-usaha perbankan, dan lain-lain. Sedangkan menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 1, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sedangkan perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Likuiditas
Dalam terminologi keuangan dan perbankan terdapat banyak pengertian mengenai likuiditas, beberapa diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut :
“Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kemungkinan ditariknya deposito/ simpanan oleh deposan/ penitip”. Dengan kata lain, menurut definisi ini, suatu bank dikatakan likuid apabila dapat memenuhi kewajiban penarikan uang dari pada penitip dana maupun dari para peminjam/ denitur.
“Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban hutang- hutanya, dapat membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan.”
Menurut pengertian ini bank dikatakan likuid apabila :
1.1. Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang akan digunakan untuk memenuhi likuiditasnya;
2.2. Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari yang tersebut diatas, tetapi yang bersangkutan juga memiliki asset lainnya (khususnya surat-surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya;
3.3. Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash assets baru melalui berbagai bentuk hutang.

Dalam terminologi yang hampir sama, dapat disebutkan bahwa “likuiditas adalah kemampuan bank untuk menyediakan saldo kas dan saldo harta likud yang lain untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, khususnya uintuk :
1. Menutup jumlah reserves required;
2. Membayar chek, giro berbunga, tabungan dan deposito berjangka milik nasabah yang diuangkan kembali;
3. Menyediakan dana kredit yang diminta calon debitur sehat, sebagai bukti bahwa mereka tidak menyimpang dari kegiatan utama bank yaitu pemberian kredit;
4. Menutup berbagai macam kewajiban segera lainnya;
5. Menutup kebutuhan biaya operasional perusahaan.